Mendalami Materi Bersama Ibu Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom., C.AC.

Dibuat oleh Wahyudiono

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mpu Tantular

 

“SENSOR FILM”

Selamat pagi Teman, pada sesi kali ini kita akan membahas mengenahi “Seberapa Penting Sensor Dalam Penayangan Berita dan Film”

Langsung kita simak yuk pembahasannya.

PENGERTIAN SENSOR

Secara sederhana, pengertian sensor adalah penelitian dan penilaian terhadap film dan reklame film untuk menentukan dapat atau tidaknyasebuah film dipertunjukan dan/atau ditayangkan kepada umum, baik secarautuh maupun setelah peniadaan bagian gambar atau suara tertentu oleh pemilik.

Film dan tayangan lain di televisi berpengaruh dalam pembentukan dan perkebangan perilaku di masyarakat dari berbagai usia. Sehingga perlu dikendalikan guna mengurangi kemungkinan terjadinya pengaruh negatif dari tayangan itu sendiri. Pengendalian tersebut diwujudkan dalam bentuk regulasi, salah satunya adalah sensor.

Sensor dalam Media Massa film. 

Sensor film adalah penelitian dan penilaian terhadap film dan reklame film untuk menentukan dapat atau tidaknya sebuah film dan reklame film dipertunjukkan dan/atau ditayangkan kepada umum, baik secara utuh maupun setelah peniadaan bagian gambar atau suara tertentu.

PENGERTIAN LEMBAGA SENSOR FILM (LSF)

Lembaga Sensor Film (LSF) adalah lembaga yang bertugas menetapkan status edar film di Indonesia. Sebuah film hanya dapat dipertontonkan atau diedarkan secaraluas setelah dinyatakan “lulus sensor” oleh LSF. Di samping itu, lembagaini juga menetapkan penggolongan usia penonton film tertentu.

UNSUR DILARANG OLEH LSF DALAM MENYENSOR FILM DAN PENYIARAN BERITA

a.     mendorong khalayak umum melakukan kekerasan, perjudian, penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya

b.     menonjolkan pornografi

c.   memprovokasi terjadinya pertentangan antar kelompok, antarsuku, antar ras, dan antar golongan

d.     menistakan, melecehkan, dan menodai nilai agama

e.     mendorong khalayak umum melakukan tindakan melawan hukum

f.      merendahkan harkat dan martabat manusia

   

      PERATURAN PERUNDANGAN LEMBAGA SENSOR FILM (LSF) INDONESIA

   MEMBAGI KODE RATING FILM KE DALAM KATEGORI

 

UU Nomor 33 Tahun 2009 Pasal 1 ayat (9), sensor film adalah penelitian, penilaian, dan penentuan kelayakan film dan iklan film untuk dipertunjukan kepada khalayak umum.Seperti Kode SU: Semua umur.

Kode A: Anak-anak (3-12 tahun)

Kode BO-A: Bimbingan orangtua dan anak-anak.

Kode BO: Bimbingan orangtua untuk anak di bawah 13 tahun. Kode BO-SU: Bimbingan orangtua dan semua umur.

Kode R: (Remaja 13-16 tahun), 13+ film khusus diperuntukan bagi penonton 13 tahun ke atas saja.

Kode D: (Dewasa), kategori ini dibagi menjadi dua, yaitu; 17+ = film yang diperuntukan bagi penonton 17 tahun ke atas saja; 21+ = film yang diperuntukan bagi penonton 21 tahun ke atas saja.


SANKSI PIHAK YANG MENGEDARKAN, MENJUAL FILM YANG BELUM LULUS SENSOR

Menurut UU No 33 Tahun 2009 Tentang Perfilman, pasal 80. “Setiap orang yang dengan sengaja mengedarkan, menjual, menyewakan, atau mempertunjukkan kepada khalayak umum sebuah film tanpa lulus sensor dapat dipidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp 10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah).

Dan dalam pasal 65 ayat 4 UU Cipta Kerja menyebutkan bahwa bagi pihak yang mengedarkan film tanpa mengantongi Surat Tanda Lulus Sensor dapat dikenai sanksi administratif berupa; teguran tertulis, denda administratif, penutupan sementara dan pembubaran/pencabutan perizinan usaha.


Sekian dulu pembahasan untuk kali ini dan semoga bermanfaat untuk teman-teman.

Terima Kasih


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Komunikasi Efektif