War" Anggaran MBG dan Hilangnya Logika Pangan Rakyat

War" Anggaran MBG dan Hilangnya Logika Pangan Rakyat

Wacana efisiensi anggaran dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diumumkan pemerintah beberapa waktu lalu memantik perdebatan publik di tengah jalan. Kebijakan ini muncul dari kebutuhan mendesak untuk menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali di tengah tekanan harga energi global.

Sepintas, langkah penghematan Rp50 triliun per tahun dengan mengurangi frekuensi pemberian MBG terlihat seperti kebijakan fiskal yang bertanggung jawab. Mekanismenya sederhana: satu hari dihilangkan, Rp1 triliun per hari bisa dihemat. Namun, di balik angka-angka efisiensi tersebut tersimpan persoalan yang jauh lebih mendasar tentang hak rakyat atas pangan bergizi.

Mengangkat isu aktual efisiensi MBG, memberi konteks bahwa kebijakan ini lahir dari tekanan fiskal global, lalu menggiring pada pertanyaan moral: apakah logika pasar (efisiensi) boleh mengalahkan hak dasar warga negara?

Program MBG bukan sekadar distribusi makanan, melainkan intervensi negara terhadap masa depan generasi bangsa yang mengandung nilai keadilan sosial dan perlindungan terhadap hak gizi anak. Di sinilah perdebatan mengenai "perang" anggaran ini menemukan relevansinya. (Ini adalah posisi penulis: kritis terhadap kebijakan efisiensi yang mengorbankan hak penerima manfaat.)

Pemerintah menyebut efisiensi dengan menghapus jadwal Sabtu dan hari libur sekolah bisa menghemat sekitar Rp1 triliun per hari . Per bulan, penghematan mencapai Rp4 triliun, dan dalam setahun, lebih dari Rp50 triliun dapat ditekan dari APBN . Hingga pertengahan April 2026, realisasi anggaran MBG tercatat sudah mencapai Rp60 triliun . Kondisi ini menunjukkan bahwa beban fiskal program prioritas memang nyata. Namun justru di sinilah letak ironinya: mengapa solusi yang diambil justru mengorbankan kuantitas pemberian makanan, bukan mengevaluasi tata kelola yang boros?

Gambar 1.1 Makan Bergizi Gratis untuk Anak Sekolah


Sumber: https://kl.antaranews.com/berita/29738/istana-jelaskan-soal-tidak-ada-susu-di-menu-mbg-perdana-di-bogor

Apakah negara sedang berhitung untung-rugi dari panggul anak-anak yang rentan stunting? Mengurangi frekuensi makan bergizi gratis berarti mengurangi 52-60 kali pemberian makan per anak dalam setahun (karena Sabtu dan libur sekolah dihapus). Bagi keluarga miskin yang menggantungkan asupan gizi anak dari program ini, satu hari tanpa MBG bukanlah soal efisiensi fiskal, melainkan soal hilangnya jaminan gizi. Ada perbedaan mendasar antara "berhemat di anggaran" dan "berhemat di piring makan anak bangsa".

Yang lebih mengkhawatirkan adalah fakta bahwa efisiensi dilakukan sementara tata kelola program ini masih karut-marut. Mantan Menko Polhukam Mahfud MD mengungkapkan fakta mengejutkan: dari total anggaran triliunan rupiah yang digelontorkan untuk MBG, serapan untuk bahan pangan hanya sekitar Rp34 miliar. Sisanya habis untuk biaya operasional seperti mobil, kaos, hingga wadah makan. Ini menunjukkan bahwa permasalahan bukan pada besaran anggaran atau frekuensi pemberian, melainkan pada ketidakefisienan dan potensi kebocoran anggaran yang sistemik.

Di sisi lain, tata kelola kelembagaan juga bermasalah. Center of Economic and Law Studies (Celios) menyoroti banyaknya tim yang terlibat dalam satu program, mencerminkan lemahnya kapasitas kelembagaan dan berpotensi membebani anggaran negara dari sisi honorarium. Ironisnya, di tengah "perang" efisiensi ini, pemerintah justru berencana meluncurkan National Command Center untuk MBG pada pertengahan Mei 2026 . Membangun pusat komando baru ketika dapur-dapur MBG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi/SPPG) banyak yang tidak layak, bahkan 1.780 SPPG dihentikan sementara karena tak punya instalasi pengolahan air limbah atau sertifikat higienitas , adalah logika yang sulit diterima.

Gambar 1.2 Petugas Pelayanan MBG

Sumber: https://infobanknews.com/program-mbg-serap-rp8815-triliun-hingga-mei-ini-jumlah-penerima-manfaatnya

Jika logika yang bekerja adalah efisiensi semata, maka dampaknya akan berantai. Penghematan Rp50 triliun bisa berarti pemutusan hubungan kerja bagi ratusan ribu juru masak dan tenaga distribusi yang bekerja di sekitar 26.000 SPPG yang sudah berdiri . Sementara target pelatihan untuk 666.000 penjamah makanan baru tercapai 33 persen . Pemutusan jadwal bisa mengacaukan ekosistem usaha mikro kecil yang memasok bahan pangan ke SPPG-SPPG tersebut.

Tidak dapat disangkal bahwa tekanan fiskal akibat kenaikan harga energi global memang nyata .Dan pemerintah harus menjaga defisit APBN. Wakil Menteri Keuangan berargumen bahwa penghapusan Sabtu lebih logis karena anak-anak tidak perlu datang ke sekolah di hari libur hanya untuk mengambil jatah MBG . Argumen ini masuk akal dari sisi praktis dan logistik. Namun, bukankah lebih "logis" jika efisiensi dilakukan dengan memangkas biaya operasional yang tidak perlu (kaos, mobil, pusat komando baru) daripada memotong hak gizi anak?

Karena itu, solusi terhadap "perang" anggaran MBG tidak bisa hanya dengan memotong frekuensi pemberian makan. Inovasi diperlukan, tetapi harus menjaga prinsip dasar bahwa negara hadir untuk menjamin gizi rakyatnya. Langkah-langkah yang lebih komprehensif perlu diarahkan pada:

Pertama, moratorium sementara dan audit menyeluruh. Celios mendorong pemerintah mempertimbangkan moratorium sementara program MBG untuk melakukan perbaikan menyeluruh, terutama terkait kapasitas kelembagaan dan penelusuran potensi kebocoran anggaran . Audit investigatif terhadap penggunaan anggaran triliunan rupiah harus menjadi prioritas, terutama mengklarifikasi kebenaran informasi bahwa serapan untuk bahan pangan hanya Rp34 miliar .

Kedua, perbaikan tata kelola, bukan pemotongan jatah. Darurat higienitas SPPG harus diatasi dengan pelatihan massal (yang selama ini sudah disediakan Kementerian Kesehatan secara gratis untuk 666.000 penjamah makanan) . Tingkatkan kompetensi sumber daya manusia di BGN dan SPPG, jangan malah membangun pusat komando baru yang boros.

Ketiga, integrasi data dan penyaluran tepat sasaran. Badan Gizi Nasional (BGN) sedang berupaya memperkuat akurasi data penerima MBG melalui integrasi lintas kementerian . Ini langkah tepat. Pastikan yang menerima MBG adalah benar-benar mereka yang membutuhkan, sehingga efisiensi bisa dilakukan di sisi sasaran, bukan di sisi frekuensi.

Langkah-langkah tersebut memang membutuhkan waktu dan tidak menghasilkan "hemat Rp. 1 triliun per hari" secara instan. Namun, pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan jauh lebih sejalan dengan prinsip keadilan yang menjadi fondasi negara dalam melayani hak dasar warganya.

 

 

Makan Begizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program unggulan Sebab dari itu, seharusnya pemerintah tidak hanya melakukan investasi jangka panjang yang bertujuan untuk membangun kualitas daripada sumber daya manusia, tetapi pemerintah harus juga melakukan efesiensi anggaran yang tidak berorientasi pada penghematan jangka pendek, dan yang lebih utama harus mempertimbangkan dampaknya terhadap pertumbuhan anak-anak saat ini. Efisiensi anggaran memang merupakan bagian penting dari pengelolaan keuangan negara, akan tetapi dalam penerapannya perlu dilakukan secara tepat dan tidak mengurangi dari tujuan utama progam.

Permasalahan MBG bukan hanya terletak pada besarannya anggaran yang dialokasikan, tetapi pada efektivitas dan tata kelola, transparansi penggunaan dana, serta pelaksanaannya, Jika masih ditemukan pemborosan pada biaya operasional, lemahnya pengawasan dan belum optimal masalah distribusinya, maka langkah pembenahan seharusnya diutamakan pada aspek-aspek tersebut dan bukan menguraangi pada pemberian penerima manfaat.

Pemerintah seharusnya lebih memperkuat sistem pengawasan, perbaikan infrastruktur pendukung, serta melakukan audit secara berkala. Partisipasi dari masyarakat, akademisi, media dan pengawas lain sangat penting untuk mengawal dari pelaksanaan program agar berjalan secara transpiring dan sesuai dengan tujuan bersama.

Keberhasilan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak diukur dari kemampuan negara dalam penghematan anggaran, melainkan juga kemampuan pemerintah dalam pemenuhan gizi anak-anak yang terpenuhi dengan baik, merata dan berkelanjutan.

Sumber/ Refrensi;

Al Ghifari¹, R., Aziz, D. A., Hendrianto, P. A., Dimas, T., & Harry⁴, D. C. D. Makan Siang atau Makan Suara? Analisis Komparatif Program Makan Bergizi Gratis sebagai Instrumen Permanent Campaign dan Strategi Klientelisme di Indonesia dan Inggris Raya.

Masruri, G., & Nugraha, H. (2026). Program Makan Bergizi Gratis sebagai Instrumen Politik Janji Pemilu: Analisis Kebijakan Anggaran dan Dampaknya terhadap Kualitas Pendidikan Indonesia dalam Menyongsong Indoensia Emas 2045. RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business, 4(4), 12100-12108.

Saputra, R., & Hasan, F. N. (2024). Analisis Sentimen Terhadap Program Makan Siang & Susu Gratis Menggunakan Algoritma Naive Bayes. Jurnal Teknologi Dan Sistem Informasi Bisnis, 6(3), 411-419.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah-langkah penanganan krisis Internal dan Eksternal

Business Model Canvas: Cara Efektif Merancang Model Bisnis Modern

“KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI: KEPEMIMPINAN SITUASIONAL”